TUGAS
MAKALAH MATA KULIAH
PEMBUATAN KOMPOS DARI SAMPAH SAYURAN
DISUSUN
OLEH:
ASTUTI
11A2019
SEKOLAH
TINGGI TEKNOLOGI NASIONAL JAMBI
DESEMBER
2013
Makalah
Pembuatan Kompos dari Sampah Sayuran
BAB I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Limbah padat dari buangan pasar dihasilkan dalam jumlah
yang cukup besar. Limbah tersebut berupa limbah sayuran yang hanya ditumpuk di
tempat pembuangan dan menunggu pemulung untuk mengambilnya atau dibuang ke TPA
jika tumpukan sudah meninggi. Penumpukan yang terlalu lama dapat mengakibatkan
pencemaran,yaitu bersarangnya hama-hama dan timbulnya bau yang tidak
diinginkan.
Sampah sayur - sayuran merupakan bahan buangan yang yang
biasanya dibuang secara open dumping
tanpa pengelolaan lebih lanjut sehingga akan menimbulkan gangguan lingkungan
dan bau yang tidak sedap.
Berdasarkan hal tersebut diatas, perlu diterapkan suatu
teknologi untuk mengatasi limbah padat, yaitudengan menggunakan teknologi daur
ulang limbah padat menjadi produk kompos yang bernilai guna tinggi.
Pengomposan dianggap sebagai teknologi berkelanjutan
karena bertujuan untuk konservasi lingkungan, keselamatan manusia, dan pemberi
nilai ekonomi. Penggunaan kompos membantu konservasi lingkungan dengan
mereduksi penggunaan pupuk kimia yang dapat menyebabkan degradasi lahan. Pengomposan secara tidak langsung juga membantu
keselamatan manusia dengan mencegah pembuangan limbah organik.
Proses pengomposan adalah proses dekomposisi materi
organik menjadi pupuk kompos melalui reaksi biologis mikroorganisme secara
aerobik dalam kondisi terkendali. Pengomposan sendiri merupakan proses
penguraian senyawa-senyawa yang terkandung dalam sisa-sisa bahan organik
(seperti jerami, daun-daunan, sampah rumah tangga, dan sebagainya) dengan suatu
perlakuan khusus. Hampir semua bahan yang pernah hidup, tanaman atau hewan akan
membusuk dalam tumpukan kompos .
Kompos sebagai hasil dari pengomposan dan merupakan salah
satu pupuk organik yang memiliki fungsi penting terutama dalam bidang pertanian
antara lain : Pupuk organik mengandung unsur hara makro dan mikro.Pupuk organik
dapat memperbaiki struktur tanah.Meningkatkan daya serap tanah terhadap air dan
zat hara, memperbesar daya ikat tanah berpasir.Memperbaiki drainase dan tata
udara di dalam tanah.Membantu proses pelapukan dalam tanah.Tanaman yang
menggunakan pupuk organik lebih tahan terhadap penyakit.
Proses pembuatan kompos berlangsung dengan menjaga
keseimbangan kandungan nutrien, kadar air, pH, temperatur dan aerasi yang
optimal melalui penyiraman dan pembalikan.
B. Rumusan Masalah
Rumusan
masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah:
1. Bagaimana
cara membuat kompos dengan efisien?
2. Apa
saja faktor – faktor yang mempengaruhi pembuatan kompos ?
C. Tujuan
Tujuan
dari pembuatan makalah ini adalah
1. mengetahui
cara pembuatan kompos yang efisien
2. mengetahui
kegunaan kompos dalam aspek ekonomi , aspek lingkungan dan aspek tanah
D. Ruang Lingkup
Untuk
mengetahui permasalahan yang ada pada penelitian atau makalah ini , perlu
mengidentifikasi beberapa masalah berikut :
1. Dasar
– dasar pembuatan kompos
2. Penggunaan
teknologi dalam pengomposan dan cara mempercepat proses pengomposan
3. Kegunaan
kompos dalam 3 aspek ( ekonomi , lingkungan dan tanah )
E. Tinjauan Pustaka
Daur
ulang limbah menjadi sesuatu yang lebih berguna sangat dianjurkan untuk
mengurangi akibat dan dampak terhadap lingkungan. Pemanfaatan sampah kota
menjadi pupuk dalam bentuk kompos merupakan alternatif yang sangat baik. Limbah
sebagai bagian dari lingkungan abiotik, merupakan salah satu mata ranatai
pemindahan energi dan materi di antara komponen komunitas. Secara alamiah, alam
cenderung mendahulukan buangan yang lebih mudah dirombak, sedang selebihnya
dalam batas-batas tertentu akan ditenggang oleh alam. Akan tetapi bila
kuantitas limbah yang tidak mudah dirombak mulai membengkak, tentunya
kesetimbangan dinamis tadi tidak dapat lagi dipertahankan. Di sinilah andil
tanah sebagai pameran pembantu (auxiliary function) dalam meredam
kegoyahan lingkungan. Baik sebagai sistem penyaring, penyangga, maupun sebagai
sistem transformasi bahan pencemar – dalam hal ini limbah (Schoeder, 1984).
Bahan organik yang dapat berupa
pupuk organik atau pupuk hijau dalam sistem pertanaman dapat berfungsi sebagai
bufer (penyangga) dan penahan lengas, di samping pengaruhnya terhadap perbaikan
sifat kimia tanah. Kualitas pupuk organik ditentukan oleh komposisi bahan dasar
pupuk organik tersebut dan tingkat perombakannya. Pupuk organik (kompos)
berbahan dasar beraneka (sampah kota) sehingga mempunyai kandungan total hara
yang tidak seragam. Kematangan kompos ditandai dengan telah hancurnya bahan
dasar, suhu kembali mendekati suhu udara dan berwarna hitam, keadaan tersebut
biasanya mempunyai nisbah C/N 10-15 (Donahue et al., 1977).
Pengomposan sendiri merupakan proses penguraian
senyawa-senyawa yang terkandung dalam sisa-sisa bahan organik (seperti jerami,
daun-daunan, sampah rumah tangga, dan sebagainya) dengan suatu perlakuan
khusus. Hampir semua bahan yang pernah hidup, tanaman atau hewan akan membusuk
dalam tumpukan kompos (Outterbridge, 1991).
Pengomposan dapat dilakukan pada kondisi aerobik dan
anaerobik.Pengomposan secara aerobik ialah dekomposisi bahan organik dalam
kondisi dengan kehadiran oksigen ( udara ) , produk utama dari metabolis
biologi aerobik adalah air dan panas. Pengomposan secara anaerobik ialah
dekomposisi bahan organik dalam kondisi dengan ketidakhadiran oksigen ( udara )
, produk utama dari metabolis biologianaerobik adalah metana , karbon dioksida
, dan senyawa intermediate dengan
berat molekul rendah ( Haung , 1980 )
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Kompos dan Proses Pengomposan
Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap dari campuran
bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh populasi
berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab, dan
aerobik atau anaerobik.
Sedangkan
proses pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian
secara biologis, khususnya oleh mikroba-mikroba yang memanfaatkan bahan organik
sebagai sumber energi.
Membuat
kompos adalah mengatur dan mengontrol proses alami tersebut agar kompos dapat
terbentuk lebih cepat. Proses ini meliputi membuat campuran bahan yang
seimbang, pemberian air yang cukup, pengaturan aerasi, dan penambahan aktivator
pengomposan.
B.
Manfaat Kompos
Kompos ibarat
multivitamin untuk tanah pertanian. Kompos akan meningkatkan kesuburan tanah
dan merangsang perakaran yang sehat. Kompos memperbaiki struktur tanah dengan
meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan akan meningkatkan kemampuan
tanah untuk mempertahankan kandungan air tanah. Aktivitas mikroba tanah yang bermanfaat
bagi tanaman akan meningkat dengan penambahan kompos. Aktivitas mikroba ini
membantu tanaman untuk menyerap unsur hara dari tanah dan menghasilkan senyawa
yang dapat merangsang pertumbuhan tanaman. Aktivitas mikroba tanah juga
diketahui dapat membantu tanaman menghadapi serangan penyakit.
Tanaman yang
dipupuk dengan kompos juga cenderung lebih baik kualitasnya daripada tanaman
yang dipupuk dengan pupuk kimia, misal: hasil panen lebih tahan disimpan, lebih
berat, lebih segar, dan lebih enak.
Kompos memiliki banyak manfaat
yang ditinjau dari beberapa aspek :
Ø Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Ø Aspek Lingkungan :
1.
Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2.
Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Ø Aspek bagi tanah/tanaman :
1. Meningkatkan kesuburan tanah
2.
Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
3.
Meningkatkan kapasitas serap air tanah
4.
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
5.
Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
6.
Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
7. Menekan
pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
8.
Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
C.
Dasar-Dasar Pengomposan
1.
Bahan-bahan yang Dapat Dikomposkan
Pada dasarnya
semua bahan-bahan organik padat dapat dikomposkan, misalnya : limbah organik
rumah tangga, sampah-sampah organik pasar/kota, kertas, kotoran/limbah peternakan,
limbah-limbah pertanian, limbah-limbah agroindustri, limbah pabrik kertas,
limbah pabrik gula, limbah pabrik kelapa sawit, dll.
2.
Proses Pengomposan
Memahami
dengan baik proses pengomposan sangat penting untuk dapat membuat kompos dengan
kualitas baik.
Proses
pengomposan akan segera berlangsung setelah bahan-bahan mentah dicampur. Proses
pengomposan secara sederhana dapat dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap aktif
dan tahap pematangan. Selama tahap-tahap awal proses, oksigen dan senyawa-senyawa
yang mudah terdegradasi akan segera dimanfaatkan oleh mikroba mesofilik. Suhu
tumpukan kompos akan meningkat dengan cepat. Demikian pula akan diikuti dengan
peningkatan pH kompos. Suhu akan meningkat hingga di atas 50o 70o
C. Suhu akan tetap tinggi selama waktu tertentu.
Mikroba yang
aktif pada kondisi ini adalah mikroba Termofilik, yaitu mikroba yang aktif pada
suhu tinggi. Pada saat ini terjadi dekomposisi/penguraian bahan organik yang
sangat aktif. Mikroba-mikroba di dalam kompos dengan menggunakan oksigen akan
menguraikan bahan organik menjadi CO2, uap air dan panas. Setelah
sebagian besar bahan telah terurai, maka suhu akan berangsur-angsur mengalami
penurunan. Pada saat ini terjadi pematangan kompos tingkat lanjut, yaitu
pembentukan komplek liat humus. Selama proses pengomposan akan terjadi
penyusutan volume maupun biomassa bahan. Pengurangan ini dapat mencapai 30 –
40% dari volume/bobot awal bahan.
Proses
pengomposan dapat terjadi secara aerobik (menggunakan oksigen) atau anaerobik
(tidak ada oksigen). Proses yang dijelaskan sebelumnya adalah proses aerobik,
dimana mikroba menggunakan oksigen dalam proses dekomposisi bahan organik.
Proses dekomposisi dapat juga terjadi tanpa menggunakan oksigen yang disebut
proses anaerobik. Namun, proses ini tidak diinginkan selama proses pengomposan
karena akan dihasilkan bau yang tidak sedap. Proses aerobik akan menghasilkan
senyawa-senyawa yang berbau tidak sedap, seperti: asam-asam organik (asam
asetat, asam butirat, asam valerat, puttrecine), amonia, dan H2S
Proses pengomposan tergantung
pada :
1. Karakteristik bahan yang
dikomposkan
2. Aktivator pengomposan yang
dipergunakan
3. Metode pengomposan yang
dilakukan
3.
Faktor yang mempengaruhi proses Pengomposan
Setiap organisme
pendegradasi bahan organik membutuhkan kondisi lingkungan dan bahan yang
berbeda-beda. Apabila kondisinya sesuai, maka dekomposer tersebut akan bekerja
giat untuk mendekomposisi limbah padat organik. Apabila kondisinya kurang
sesuai atau tidak sesuai, maka organisme tersebut akan dorman, pindah ke
tempat lain, atau bahkan mati. Menciptakan kondisi yang optimum untuk proses
pengomposan sangat menentukan keberhasilan proses pengomposan itu sendiri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi
proses pengomposan antara lain :
Ø Rasio C/N
protein. Pada rasio C/N di antara 30 s/d 40 mikroba mendapatkan cukup C untuk
energi dan N untuk sintesis protein. Apabila rasio C/N terlalu tinggi, mikroba
akan kekurangan N untuk sintesis protein sehingga dekomposisi berjalan lambat.
Ø Ukuran Partikel
Aktivitas
mikroba berada diantara permukaan area dan udara. Permukaan area yang lebih
luas akan meningkatkan kontak antara mikroba dengan bahan dan proses
dekomposisi akan berjalan lebih cepat. Ukuran partikel juga menentukan besarnya
ruang antar bahan (porositas). Untuk meningkatkan luas permukaan dapat
dilakukan dengan memperkecil ukuran partikel bahan tersebut.
Ø Aerasi
Pengomposan
yang cepat dapat terjadi dalam kondisi yang cukup oksigen (aerob).
Aerasi secara alami akan terjadi pada saat terjadi peningkatan suhu yang
menyebabkan udara hangat keluar dan udara yang lebih dingin masuk ke dalam
tumpukan kompos. Aerasi ditentukan oleh porositas dan kandungan air
bahan(kelembaban). Apabila aerasi terhambat, maka akan terjadi proses anaerob
yang akan menghasilkan bau yang tidak sedap. Aerasi dapat ditingkatkan dengan
melakukan pembalikan atau mengalirkan udara di dalam tumpukan kompos.
Ø Porositas
Porositas adalah ruang diantara
partikel di dalam tumpukan kompos. Porositas dihitung dengan mengukur volume
rongga dibagi dengan volume total. Rongga-rongga ini akan diisi oleh air dan
udara. Udara akan mensuplai Oksigen untuk proses pengomposan. Apabila rongga
dijenuhi oleh air, maka pasokan oksigen akan berkurang dan proses pengomposan
juga akan terganggu.
Ø Kelembaban (Moisture content)
Kelembaban memegang peranan yang
sangat penting dalam proses metabolisme mikroba dan secara tidak langsung
berpengaruh pada suplai oksigen. Mikrooranisme dapat memanfaatkan bahan organik
apabila bahan organik tersebut larut di dalam air.
Kelembaban 40 60 % adalah
kisaran optimum untuk metabolisme mikroba. Apabila kelembaban di bawah 40%,
aktivitas mikroba akan mengalami penurunan dan akan lebih rendah lagi pada
kelembaban 15%. Apabila kelembaban lebih besar dari 60%, hara akan tercuci,
volume udara berkurang, akibatnya aktivitas mikroba akan menurun dan akan
terjadi fermentasi anaerobik yang menimbulkan bau tidak sedap.
Ø Temperatur
Panas dihasilkan dari aktivitas
mikroba. Ada hubungan langsung antara peningkatan suhu dengan konsumsi oksigen.
Semakin tinggi temperatur akan semakin banyak konsumsi oksigen dan akan semakin
cepat pula proses dekomposisi. Peningkatan suhu dapat terjadi dengan cepat pada
tumpukan kompos. Temperatur yang berkisar antara 30 60o C
menunjukkan aktivitas pengomposan yang cepat. Suhu yang lebih tinggi dari 60o
C akan membunuh sebagian mikroba dan hanya mikroba thermofilik saja yang akan
tetap bertahan hidup. Suhu yang tinggi juga akan membunuh mikroba-mikroba
patogen tanaman dan benih-benih gulma.
Ø pH
Proses
pengomposan dapat terjadi pada kisaran pH yang lebar. pH yang optimum untuk
proses pengomposan berkisar antara 6.5 sampai 7.5. pH kotoran ternak umumnya
berkisar antara 6.8 hingga 7.4. Proses pengomposan sendiri akan menyebabkan
perubahan pada bahan organik dan pH bahan itu sendiri. Sebagai contoh, proses
pelepasan asam, secara temporer atau lokal, akan menyebabkan penurunan pH
(pengasaman), sedangkan produksi amonia dari senyawa-senyawa yang mengandung
nitrogen akan meningkatkan pH pada fase-fase awal pengomposan. pH kompos
yang sudah matang biasanya mendekati netral.
Ø Kandungan hara
Kandungan P
dan K juga penting dalam proses pengomposan dan biasanya terdapat di dalam
kompos-kompos dari peternakan. Hara ini akan dimanfaatkan oleh mikroba selama
proses pengomposan.
Ø Kandungan bahan berbahaya
Beberapa
bahan organik mungkin mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kehidupan
mikroba. Logam-logam berat seperti Mg, Cu, Zn, Nickel, Cr adalah beberapa bahan
yang termasuk kategori ini. Logam-logam berat akan mengalami imobilisasi selama
proses pengomposan.
4.
Lama pengomposan
Lama waktu
pengomposan tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan, metode
pengomposan yang dipergunakan dan dengan atau tanpa penambahan aktivator
pengomposan.
Secara alami
pengomposan akan berlangsung dalam waktu beberapa minggu sampai 2 tahun hingga
kompos benar-benar matang.
D.
Strategi Mempercepat Proses Pengomposan
Pengomposan
dapat dipercepat dengan beberapa strategi. Secara umum strategi untuk
mempercepat proses pengomposan dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu :
1.
Memanipulasi kondisi/faktor-faktor yang berpengaruh pada proses
pengomposan.
2.
Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses pengomposan: mikroba
pendegradasi bahan organik dan vermikompos (cacing).
3.
Menggabungkan strategi pertama dan kedua.
1.
Memanipulasi Kondisi Pengomposan
Strategi ini
banyak dilakukan di awal-awal berkembangnya teknologi pengomposan. Kondisi atau
faktor-faktor pengomposan dibuat seoptimum mungkin. Sebagai contoh, rasio C/N
yang optimum adalah 2535:1. Untuk membuat kondisi ini bahan-bahan yang
mengandung rasio C/N tinggi dicampur dengan bahan yang mengandung rasio C/N
rendah, seperti kotoran ternak.
Ukuran bahan
yang besar-besar dicacah sehingga ukurannya cukup kecil dan ideal untuk proses
pengomposan. Bahan yang terlalu kering diberi tambahan air atau bahan yang
terlalu basah dikeringkan terlebih dahulu sebelum proses pengomposan. Demikian
pula untuk faktor-faktor lainnya.
2.
Menggunakan Aktivator Pengomposan
Strategi yang
lebih maju adalah dengan memanfaatkan organisme yang dapat mempercepat proses
pengomposan. Organisme yang sudah banyak dimanfaatkan misalnya cacing tanah.
Proses pengomposannya disebut vermikompos dan kompos yang dihasilkan dikenal
dengan sebutan kascing. Organisme lain yang banyak dipergunakan adalah mikroba,
baik bakteri, actinomicetes, maupun kapang/cendawan. Saat ini di pasaran banyak
sekali beredar aktivator-aktivator pengomposan, misalnya : Promi, OrgaDec,
SuperDec, ActiComp, EM4, Stardec, Starbio, dll.
Promi, OrgaDec,
SuperDec, dan ActiComp adalah hasil penelitian Balai Penelitian Bioteknologi
Perkebunan Indonesia (BPBPI) dan saat ini telah banyak dimanfaatkan oleh
masyarakat. Aktivator pengomposan ini menggunakan mikroba-mikroba terpilih yang
memiliki kemampuan tinggi dalam mendegradasi limbah-limbah padat organik,
yaitu: Trichoderma pseudokoningii, Cytopaga sp, Trichoderma
harzianum, Pholyota sp, Agraily sp dan FPP (fungi pelapuk putih).
Mikroba ini
bekerja aktif pada suhu tinggi (termofilik). Aktivator yang dikembangkan oleh
BPBPI tidak memerlukan tambahan bahan-bahan lain dan tanpa pengadukan secara
berkala. Namun, kompos perlu ditutup/sungkup untuk mempertahankan suhu dan
kelembaban agar proses
pengomposan berjalan optimal dan
cepat. Pengomposan dapat dipercepat hingga 2 minggu untuk bahan-bahan
lunak/mudah dikomposkan hingga 2 bulan untuk bahan-bahan keras/sulit
dikomposkan.
3.
Memanipulasi Kondisi dan Menambahkan Aktivator Pengomposan
Strategi
proses pengomposan yang saat ini banyak dikembangkan adalah menggabungkan dua
strategi di atas. Kondisi pengomposan dibuat seoptimal mungkin dengan
menambahkan aktivator pengomposan.
Seringkali
tidak dapat menerapkan seluruh strategi pengomposan di atas dalam waktu yang
bersamaan. Ada beberapa pertimbangan yang dapat digunakan untuk menentukan
strategi pengomposan :
a.
Karakteristik bahan yang akan dikomposkan.
b. Waktu
yang tersedia untuk pembuatan kompos.
c. Biaya
yang diperlukan dan hasil yang dapat dicapai.
d. Tingkat
kesulitan pembuatan kompos
E.
Teknologi Pengomposan
Metode atau
teknologi pengomposan dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok berdasarkan
tingkat teknologi yang dibutuhkan, yaitu :
1.
Pengomposan dengan teknologi rendah (Low – Technology)
2.
Pengomposan dengan teknologi sedang (Mid – Technology)
3.
Pengomposan dengan teknologi tinggi (High – Technology)
1. Pengomposan dengan Teknologi
Rendah
Teknik
pengomposan yang termasuk kelompok ini adalah Windrow Composting. Kompos
ditumpuk dalam barisan tumpukan yang disusun sejajar. Tumpukan secara berkala
dibolak-balik untuk meningkatkan aerasi, menurunkan suhu apabila suhu terlalu
tinggi, dan menurunkan kelembaban kompos. Teknik ini sesuai untuk pengomposan
skala yang besar. Lama pengomposan berkisar antara 3 hingga 6 bulan, yang
tergantung pada karakteristik bahan yang dikomposkan.
2. Pengomposan dengan Teknologi
Sedang
Pengomposan dengan teknologi
sedang antara lain adalah :
· Aerated
static pile : gundukan kompos diaerasi statis
Tumpukan/gundukan kompos (seperti
windrow system) diberi aerasi dengan menggunakan blower mekanik.
Tumpukan kompos ditutup dengan terpal plastik. Teknik ini dapat mempersingkat
waktu pengomposan hingga 3 – 5 minggu.
· Aerated
compost bins : bak/kotak kompos dengan aerasi
Pengomposan dilakukan di dalam
bak-bak yang di bawahnya diberi aerasi. Aerasi juga dilakukan dengan
menggunakan blower/pompa udara. Seringkali ditambahkan pula cacing
(vermikompos). Lama pengomposan kurang lebih 2 – 3 minggu dan kompos akan
matang dalam waktu 2 bulan.
3.
Pengomposan dengan Teknologi Tinggi
Pengomposan
dengan menggunakan peralatan yang dibuat khusus untuk mempercepat proses
pengomposan. Terdapat panel-panel untuk mengatur kondisi pengomposan dan lebih
banyak dilakukan secara mekanis. Contoh-contoh pengomposan dengan teknologi
tinggi antara
lain :
lain :
· Rotary
Drum Composter
Pengomposan dilakukan di dalam
drum berputar yang dirancang khusus untuk proses pengomposan. Bahan-bahan
mentah dihaluskan dan dicampur pada saat dimasukkan ke dalam drum. Drum akan
berputar untuk mengaduk dan memberi aearasi pada kompos.
· Box/Tunnel
Composting System
Pengomposan dilakukan dalam
kotak-kotak/bak skala besar. Bahan-bahan mentah akan dihaluskan dan dicampur
secara mekanik. Tahap-tahap pengomposan berjalan di dalam beberapa bak/kotak
sebelum akhirnya menjadi produk kompos yang telah matang.
Sebagian dikontrol dengan
menggunakan komputer. Bak pengomposan dibagi menjadi dua zona, zona pertama
untuk bahan yang masih mentah dan selanjutnya diaduk secara mekanik dan diberi
aerasi. Kompos akan masuk ke bak zona ke dua dan proses pematangan kompos
dilanjutkan.
· Mechanical
Compost Bins
Sebuah drum khusus dibuat untuk
pengomposan limbah rumah tangga.
F.
Prosedur Pengomposan
Teknik
pengomposan yang disampaikan dalam bab ini adalah teknik pengomposan
bahan-bahan organic padat sederhana. Prinsipnya adalah MUDAH, MURAH, dan CEPAT.
Tahapan-tahapan pengomposan mudah dilakukan, peralatan yang dibutuhkan mudah
diperoleh dan murah, proses pengomposannya cepat, dan tidak memerlukan biaya
besar. Kompos yang dihasilkan berkualitas baik, dapat langsung digunakan oleh
petani atau diolah dan dijual ke pasaran.
4.
Alat-alat yang dibutuhkan
Peralatan
antara lain: parang/sabit, ember/bak plastik untuk menampung air, ember untuk
menyiram, plastik penutup, tali, sekop garpu/cangkul, dan cetakan kompos (jika
diperlukan).
Plastik
penutup dapat menggunakan plastik mulsa yang berwarna hitam. Belah plastik
tersebut sehingga lebarnya menjadi 2 m. Panjang plastik disesuaikan dengan
banyaknya bahan yang akan dikomposkan.
Cetakan
kompos dapat dibuat dari bambu atau kayu. Cetakan ini terdiri dari 4 bagian
terpisah, dua bagian berukuran kurang lebih 2 x 1 m dan dua lainnya berukuran 1
x 1 m.
5.
Lokasi Pengomposan
Pengomposan
sebaiknya dilakukan di dekat kebun yang akan diaplikasi kompos atau di dekat
sumber bahan baku yang akan dibuat kompos. Pemilihan lokasi ini akan menghemat
biaya transportasi dan biaya tenaga kerja. Lokasi juga dipilih dekat dengan
sumber air. Karena apabila jauh dengan sumber air akan menyulitkan proses
pengomposan.
6.
Aktivator Pengomposan
Aktivator
yang digunakan adalah PROMI. Jika aktivator pengomposan sulit diperoleh dapat
menggunakan kotoran ternak atau rumen sapi untuk mempercepat proses
pengomposan.
7.
Tahapan Pengomposan
a.
Memperkecil ukuran bahan. Untuk memperkecil ukuran bahan dapat dilakukan
dengan menggunakan parang atau dengan mesin pencacah.
b.
Menyiapkan aktivator pengomposan. Aktivator (Orgadec atau Promi)
dilarutkan ke dalam air sesuai dosis yang dibutuhkan.
c.
Pemasangan cetakan.
d.
Memasukkan bahan ke dalam cetakan selapis demi selapis. Tinggi lapisan
kurang lebih seperlima dari tinggi cetakan. Injak-injak bahan tersebut agar
memadat sambil disiram dengan aktivator pengomposan.
e.
Dalam setiap lapisan siramkan aktivator pengomposan.
Setelah
cetakan penuh, buka cetakan dan tutup tumpukan kulit buah kakao dengan plastik
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil Pembahasan
Ø Salah satu cara mengatasi permasalahan sampah adalah dengan
membuatnya menjadi kompos. Kompos adalah hasil penguraian parsial/tidak lengkap
dari campuran bahan-bahan organik yang dapat dipercepat secara artifisial oleh
populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab,
dan aerobik atau anaerobik.
Ø Pengomposan dapat dipercepat dengan beberapa strategi
seperti Memanipulasi kondisi / faktor-faktor yang berpengaruh pada proses
pengomposan,Menambahkan Organisme yang dapat mempercepat proses
pengomposan,Menggabungkan strategi pertama dan kedua.
Ø Kegunaan kompos
Aspek Ekonomi :
1. Menghemat biaya untuk
transportasi dan penimbunan limbah
2. Mengurangi
volume/ukuran limbah
3. Memiliki nilai jual
yang lebih tinggi dari pada bahan asalnya
Aspek
Lingkungan :
1.
Mengurangi polusi udara karena pembakaran limbah
2.
Mengurangi kebutuhan lahan untuk penimbunan
Aspek bagi tanah/tanaman :
1.
Meningkatkan kesuburan tanah
3.
Memperbaiki struktur dan karakteristik tanah
4.
Meningkatkan kapasitas serap air tanah
5.
Meningkatkan aktivitas mikroba tanah
6.
Meningkatkan kualitas hasil panen (rasa, nilai gizi, dan jumlah panen)
7.
Menyediakan hormon dan vitamin bagi tanaman
8.
Menekan pertumbuhan/serangan penyakit tanaman
9.
Meningkatkan retensi/ketersediaan hara di dalam tanah
B.
Saran
Setelah
pengolahan kompos selesai, maka kompos yang sudah jadi bisa dijadikan sumber
mata pencaharian yang menjanjikan dengan jalan dikemas sebelum dipasarkan.
Apabila kompos akan dijual, ukuran kemasan disesuaikan dengan target pasar
penjualan. Ukuran kemasan dapat bervariasi mulai dari 1 kg hingga 25 kg. Pada
plastik/kantong kemasan perlu dicantumkan nama produk, kandungan hara, dan spesifikasi
lainnya. Biasanya dicantumkan pula tanggal produksi, tanggal kadaluwarsa, nama
produsen atau distributor. Jika produk ini telah didaftarkan ke Departemen
Pertanian, perlu juga dicantumkan nomor ijinnya.
DAFTAR PUSTAKA
Sofian. 2006. Sukses Membuat Kompos dari Sampah. Surabaya
: Agromedia Pustaka.
Sudrajat.
2006. Seri Agriteknologi. Mengelola Sampah Kota. Surabaya :
Penebar Swadaya
www.google.com//isroi.kompos_dan_proses_pengomposan diakses
oktober 2010.
Nuryani dan Rachman.2002. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan
volume 3. Yogyakarta: UGM press
www.wikipedia.org/wiki/Kompos
diakses oktober 2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar